Header Ads


TENTANG SANG PENDIDIK BANGSA, GUSDUR DAN CAK NUR


Internasionalisasi Gus Dur dan Cak  Nur

Oleh Dr. Syafiq Hasyim

Karangan pendek ini pada mulanya saya tulis untuk memenuhi permintaan Jaringan Gus Durian (Wahid Institute) untuk mendiskusikan pemikiran kedua guru bangsa yakni Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Nurcholish Madjid alias Cak Nur dalam waktu yang sama. Dua tokoh ini bagi saya adalah benar-benar seorang pendekar pengetahuan dan kemanusiaan, jadi menulis mereka berdua adalah overwhelmed bagi diri saya sendiri.

Hal yang dimintakan pada saya sebenarnya adalah tiga hal. Pertama, persinggungan ide Gus Dur dan Cak Nur tentang demokrasi dan Islam di Indonesia, apa kesamaan dan perbedaan di antara keduanya. Kedua, tempaan yang membuat Gus Dur dan Cak Nur melahirkan ide besar dan tantangan konsistensi dalam bersikap. Ketiga, topik- topik spesifik, seperti topik yang luput atau surut diperhatikan yang relevan dan penting dikembangkan dari pemikiran Gus Dur dan Cak Nur, misalnya, seperti isu kemandirian pesantren,  pembibitan intelektual muslim Indonesia yang ke depan tidak terpinggirkan oleh dunia Islam di Timur Tengah, sekulerisme negara atau lainnya.

Dalam kesempatan ini saya tidak ingin menulis kedua tokoh besar di atas berdasarkan poin-poin yang telah diberikan, bahkan saya mengabaikannya. Saya lebih memilih untuk menulis soal keinginan banyak kalangan agar pemikiran Gus Dur dan Cak Nur memiliki sumbang sih pada pemikiran dunia. Kira-kira apa yang harus dikerjakan sehingga dunia menilik pemikiran kedua tokoh penting Indonesia ini. Internasionalisasi ini dikehendaki oleh banyak kalangan Indonesia dan dunia akibat krisis ketokohan pemikira di kalangan dunia Islam. Di mana-mana negara Islam kini terjebak dalam konflik sektarian. Di Mesir, konflik terjadi antara kelompok Sunni yang dipimpin oleh seorang jenderal bernama al-Sisi dan Sunni yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Konflik ini berakhir pada penggulingan pemerintahan sipil dibawah kendali Ikwanul Muslimin. Di Syria, konflik sektarian terjadi antara kelompok Syiah yang disimbolkan oleh rezim Basar al-Asad dan kelompok pemberontak yang disimbolkan oleh kalangan Wahhabi, Konflik sektarian tersebut tidak hanya menelan korban harta benda, namun juga korban kemanusiaan. Korban banyak berguguran termasuk kalangan intelektual dan ulama.

Kecukupan Bahan

Dunia Muslim kini sedang mencari keteladanan moralitas dan intelektual. Masyarakat Indonesia berharap bahwa Gus Dur dan Cak Nur bisa digali untuk mengisi celak ini. Pertanyaannya: mengapa Gus Dur dan Cak Nur, bukankah masih ada intelektual lain yang bisa juga dipromosikan?

Untuk mempromosikan suatu pemikiran menjadi pemikiran kelas dunia harus memiliki bahan yang memang pantas untuk dikembangkan sebagai pemikiran dunia. Bahan-bahan yang ditinggalkan oleh keduanya memiliki kecukupan untuk dikatakan sebagai pemikiran dunia.

Jika ditilik perbedaan dan persamaan keduanya, maka Gus Dur dan Cak Nur mungkin lebih memiliki banyak kesamaan. Kedua tokoh ini sama-sama memiliki perhatian (concern) yang senada soal penemuan dan penegasan identitas keIndonesian dan keIslaman. Cak Nur sering menyatakan aspek ke Indonesiaan –unsur-unsur dalam Indonesia--yang sangat kuat tertanam di dalam tradisi Islam di Indonesia, sementara Gus Dur mengemukakan soal pribumisasi Islam.  Indonesia. Cak Nur menyerukan perlunya kontektualisasi Islam, Gus Dur juga memandang perlunya Islam ditempatkan dalam kontek ruang dan waktunya. Masih banyak hal yang sama di antara keduanya, di samping juga mungkin perbedaan-perbedaan yang ada. Sudah barang tentu keduanya memiliki dimensi pemikiran keislaman dan keindonesiaan yang sangat luas; persamaan dan perbedaan bisa ditemukan di sana-sini, namun dari itu semua, saya ingin melihat dimensi yang tidak terlalu banyak disorot namun sering diharapkan dan diungkapkan oleh para pengikut dan juga penafsir kedua tokoh di atas yakni aspek internasionalisasi keduanya.

Komunitas Diskursus

Pada tanggal 29 Agustus 2014 lalu, saya memiliki kesempatan yang pertama untuk mengikuti haul Cak Nur ke 9 (wafat 2005). Haul ini sangat meriah karena diperingati dengan peluncuran buku biografi Cak Nur karangan Wahyuni Nafis. Pagi harinya, saya dengan Wahyuni Nafis diundang sebuah station TV kabel untuk mengulas peran sang guru bangsa ini. Untuk haul Gus Dur saya baru memiliki kesempatan untuk menyaksikannya lewat youtube pada saat itu karena tahun 2014 sebagian besarnya saya masih tinggal di Berlin. Dari haul keduanya, bisa disimpulkan bahwa Gus Dur dan Cak Nur adalah dua tokoh yang sangat dicintai dan dikagumi oleh kebanyakan manusia Indonesia; akademisi, aktivis, intelektual, politisi bahkan birokrat. Untuk mereka yang mengikuti dan meneladani Gus Dur menyebut diri mereka sebagai Gus Durian dan Cak Nur sebagai Cak Nurian. Komunitas Gus Durian sekarang ini lebih massif apabila dibandingkan dengan komunitas Cak Nurian.

Selain menjadi pengikut Gus Dur dan Cak Nur, meminjam istilah Martyn Nystrand dalam karyanya What Writers Know: The Language, Process and Written Discourse (1982), Gus Durian dan Cak Nurian layak disebut sebagai “discourse community.” Dalam dunia Barat istilah discourse community sering dialamatkan pada komunitas akademik. Civic engagement and conversation mereka dengan antara orang-orangdi sekitar mereka. Namun pemaknaan komunitas diskursus hanya pada kalangan akademik ini sesungguhnya masih sangatlah bias dunia Barat. 

Terciptanya komunitas diskursus adalah karena terjadinya dialog dan percakapan antara produk diskursus dengan readers. Mengapa para pengikut kedua tokoh tersebut saya sebut sebagai komunitas diskursus karena diskursus yang diproduksi oleh keduanya mampu membangun identitas para pengikutnya (constitutive element of identity). Justru dalam konteks Indonesia, para pengusung diskursus Gus Dur dan Cak Nur tidak dimonopoli oleh kalangan akademik. Para penyebar ide-ide Gus Dur misalnya lebih banyak didominasi oleh kalangan santri dan aktivis pro demokrasi. Sementara Cak Nur, meskipun penyebar gagasannya banyak dari kalangan akademisi, namun jumlah mereka tidak memonopoli. Cak Nur mendirikan Universitas Paramadina dan juga menjadi panutan para peneliti baik di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) maupun di Sekolah Pasca Sarjana UIN Jakarta.

Mengapa memperbincangkan discourse community dari keduanya itu penting? Karena selain karya-karya yang mereka tinggalkan, keberlangsungan ajaran keduanya sangat tergantung pada para pembela wacana tersebut. Gus Dur dan Cak Nur sudah mati, pikiran yang terserak dalam buku dan ingatan orang-orang juga akan hilang, kecuali ide dan gagasan mereka hidup. Sementara hidup dan mati sebuah gagasan salah satunya adalah terletak pada bagaimana gagasan dan ide mereka direproduksi oleh para pengikut dan pengkajinya. Tidak hanya, komunitas inilah yang kemudian bertanggung jawab atas penyebaran gagasan, melakukan riset dan mendialogkan pemikiran the discourse makers dengan komunitas lebih luas.

Sebagian kecil masyarakat Islam Indonesia yang kritis terhadap kedua tokoh ini adalah kelompok-kelompok yang memiliki ide dan pemikiran baik keagamaan maupun politik yang berbeda dengan keduanya.

Anatomi “discourse community” keduanya menarik untuk dilihat. Meskipun penggemar Gus Dur dan Cak Nur menempati banyak ruang yang saling beirisan, namun untuk sebagian dari mereka tidak bisa bertemu dalam ide, pikiran dan juga aktivisme. Bagi sebagian pengikut Gus Dur, Cak Nur dipandang sebagai pribadi yang ikut memperkuat konsep ideology pembangunganisme Suharto yang pada tahapan tertentu meminggirkan tradisioonalisme Islam, kaum nahdliyyin yang memang gagap dengan kemodernan. Bagi sebagian pengikut Cak Nur, Gus Dur dipandang tidak konsisten dalam menjalan ide demokrasi. Wacana seperti ini saya dengar lama di kalangan pengikut ideologis kedua tokoh ini. Tapi jika kita simak secara benar-benar, maka perbedaan tersebut lebih banyak pada tataran politik praktis dibandingkan dengan tataran pemikiran keagamaan mereka.

Ciri-ciri komunitas diskursus:
  1. Mereka memiliki tujuan publik yang telah disepakati bersama.
  2. Memiliki mekanisme untuk berbicara di antara kelompok mereka.
  3. Proses partisipatoris di antara kelompok terutama dalam mengelola informasi
  4. Menggunakan banyak genres dan bahkan beberapa genre menjadi khas bagi mereka.
  5. Memiliki kelompok dan keahlian.


“New Intellectualism”

Tidak ada yang menafikan pentingnya peran Cak Nur dan Gus Dur atau di balik Gus Dur dan Cak Nur dalam membangun karakter Islam di Indonesia yang lebih terbuka pada gagasan lokal. Meskipun keduanya secara konvensional lebih dekat dengan model intelektual publik (public intellectuals), karena pemikiran mereka cenderung pada aspek-aspek yang juga dipikirkan oleh publik, namun saya lebih suka menyebut keduanya sebagai “new intellectuals.” Di dunia Barat ada tiga kelompok yang identical dengan “men or women of learning” yakni intelektual, akademisi dan writer. Di Indonesia, tiga kategori ini tidak bisa dipisahkan secara tajam, bahkan saling tumpang tindih. Gagasan “new intellectuals” adalah kesadaran untuk menunjukkan bahwa dalam diri keduanya ada ketiga elemen di atas. Ada sisi intelektualisme dimana itu ditunjukkan dengan olah pikir keduanya, akademisi dimana di dalam diri keduanya memang ada sisi akademiknya dan ada sisi writernya karena keduanya suka menulis artikel dan hal-hal keilmuan populer. Dengan demikian, mengatakan keduanya sebagai intelektual publik bukan berarti Gus Dur dan Cak Nur tidak ada sisi-sisi akademis pada mereka, namun pemikiran yang dikembangkan mereka lebih kepada arah dakwah ideologis tentang kebaikan Islam dimana agama disajikan dalam bentuk paling rasional dan terbaik kepada publik. Sudah barang tentu, keduanya juga menawarkan pemikiran kritis seperti “Tidak Ada Tuhan Selain Tuhan” (Cak Nur) dan “Assalamu’alaikum” (Gus Dur) boleh ditukar dengan ucapakan “Selamat atas kalian semua.”Namun jika kita berdiskusi tentang Islam Indonesia, maka arahnya adalah lebih banyak pada pemaparan soal bagaimana Islam Indonesia itu berbeda dan memiliki karakter yang tidak ditemukan di dalam Islam-Islam di tempat lainnya. Membangun wacana pemaknaan Islam Indonesia seperti ini jelas berbeda dengan Islam lainnya.

Letak penting perspektif “new intellectualism” untuk memahami kedua tokoh di atas tidak lain adalah keinginan untuk membaca dan menempatkan keduanya dalam konteks keislaman dan keindonesiaan. Gus Dur dan Cak Nur adalah pribadi yang komplek dan universal meminjam istilah Pierre Bourdieu. Keduanya juga memiliki sisi pragmatisme di dalam kehidupan mereka. Kecenderungan pragmatisme mereka lebih halus dideskripsikan sebagai bentuk “prophetic pragmatism --meminjam bahasa Cornel West—atau intellectual organics –Gramsci. Dalam kadar tertentu mereka juga berperan sebagai political agent. Dalam kategori terakhir ini keduanya layak disebut sebagai intelektual publik.

Tapi dari itu semua menarik untuk mengutip Jean Baudrillard (1985) dimana saat sekarang ini intelektualisme adalah fenomena “yang nyata ditransformasikan ke dalam bentuk statistik dan proyeksi simulatif dalam media-media.”

Internasionalisasi Cak Nur dan Gus Dur

Salah satu kekurangan dari para pemikir Islam besar Islam di Indonesia adalah ketidakterkenalan mereka di perdebatan internasional. Dari Hamka, Natsir, Gus Dur, dan Quraish Shihab dlsb, mereka tidak terlalu dikenal secara baik dalam perbincangan akademik internasional. Hal ini juga menimpa pada diri Gus Dur dan Cak Nur. Keduanya memang sudah diulas dalam disertasi-disertasi dan di jurnal-jurnal internasional, namun harus saya akui bahwa keduanya selalu dikenal oleh para spesialis Indonesia (area studies). Selain kalangan spesialis, sebaiknya mereka dikenal di kalangan mereka yang mengkaji Islamwissenchaft (Islamic studies). Ada beberapa sebab mengapa mereka tidak begitu dikenal di luar area studies.

Pertama,  mereka berdua tidak menulis atau meninggalkan karya dalam bahasa yang dipahami oleh komunitas intelektual Muslim internasional yang pada saat ini banyak bekerja di atas dua bahasa; Inggris dan Arab. Hal ini termasuk menimpa Gus Dur dan Cak Nur sebagaimana dinyatakan juga oleh Prof. Amin Abdullah dalam pidatonya pada 19 Agustus 2014. Cak Nur menulis disertasi dalam bahasa Inggris tentang Ibn Taymiyya namun disertasi ini tidak dipublikasikan baik oleh commercial publisher maupun oleh university publisher.  Karenanya, Amin Abdullah mengusulkan agar pemikiran-pemikiran Cak Nur diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Untuk menjadi bagian dari pemikiran dunia, proyek penerjemahan bisa menjadi jalan keluar, namun personalannya tidak hanya terletak di situ. Para pemikir Eropa berkebangsaan Prancis dan Jerman menulis karya-karya mereka di dalam bahasa ibu mereka. Karl Marx, Max Weber, Hegel, Foucault, Derrida, bahkan Habermas atau Said Nursi, Murtadha Mutahhari, dlsb, semuanya menulis dalam bahasa ibu mereka. Pemikir-pemikir Islam juga lebih banyak menuliskan ide mereka dalam bahasa Arab. Namun pemikiran mereka tidak hanya dikenal oleh para penutur bahasa Ibu mereka, namun juga oleh penutur bahasa lain misalnya Inggris dan Indonesia. Habermas menulis disertasinya dalam bahasa Jerman sebagaimana juga Michel Foucault menuliskan pemikirannya dalam bahasa Prancis.

Kedua, selama ini para penafsir kedua guru bangsa (komunitas diskursus) di atas masih lebih fokus pemikiran Gus Dur dan Cak Nur in toto. Komunitas penafsir (interpretive community) atau komunitas diskursus harus berjuang untuk melakukan internasionalisasi pemikiran. Untuk itu, hal yang bisa ditempuh adalah upaya melakukan kontekstualisasi pemikiran keduanya dengan pemikiran para tokoh dunia lain yang sejenis seperti bagaimana menghubungkan Gus Dur dan Cak Nur dengan Gandhi, Isaiah Berlin, Vaclav Havel, Kafka dan lain sebagainya. Tidak adil jika produk intelektualisme Gus Dur dan Cak Nur hanya ditulis untuk kontek lokal saja, keIndonesiaan dan selama ini para penafsir belum “move on.” Ini mengamini apa yang dilukiskan oleh Peirre Bourdieu bahwa kita sekarang memerlukan internasionalisme para pendukung nilai-nilai etis, estetik dan kognitif universal di tengah irasionalisme dunia pos modern.

Ketiga, jika ada Indonesianis yang menulis soal Gus Dur dan Cak Nur, maka yang ditulis mereka lebih banyak pada aspek aktivisme bukan pada aspek intelektualisme mereka berdua. Para penafsir Gus Dur dan Cak Nur harus bergerak dari perspektif area studies menuju perspektif Islam atau interdisciplinary studies sebab dengan meletakkan keduanya dalam perspektif demikian akan lebih memudahkan mereka untuk menempatkan Gus Dur dan Cak Nur dalam dunia internasional.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.